Serangan Burung Pipit Ancam Hasil Panen, Petani Kendal Pasang Kaleng Berbunyi dan Bergantian Jaga Sejak Subuh
Awalnya warga hanya mengandalkan sorakan dan tepukan tangan yang bersahutan lantang di sepanjang pematang sawah, namun cara itu sama sekali tidak mempan. Burung pipit seolah tidak mendengar dan tetap asyik mematuk bulir padi yang mulai menguning, hingga membuat hati para petani makin geram.
Karena tidak ada cara lain, warga akhirnya merancang alat pengusir buatan sendiri. Mereka menancapkan bambu setiap jarak empat meter, lalu merentangkan seutas tali yang disambung menyambung ke seluruh petakan sawah. Pada tali tersebut digantungkan kaleng‑kaleng bekas susu kental manis yang bagian dalamnya sudah diisi kerikil. Cukup dengan menarik tali dari kejauhan, kaleng‑kaleng itu akan saling berbenturan dan menimbulkan bunyi bising beruntun yang cukup efektif membuat burung‑burung itu terbang kocar‑kacir.
Tidak hanya mengandalkan alat, warga juga memberlakukan sistem piket bergantian penuh. Sejak cahaya matahari baru muncul di ufuk timur, para petani sudah berada di lokasi, kemudian saling tukar jaga dengan istri maupun anggota keluarga lain secara silih berganti sepanjang hari, agar tanaman padi tidak pernah luput dari pengawasan.
Saat ditemui langsung di tengah sawah, salah satu petani setempat, Shobirin, menceritakan keprihatinannya sekaligus melontarkan sindiran halus dengan nada bercanda.
“Beginilah nasib petani setiap hari. Banyak mahasiswa di luar sana yang gampang sekali berteriak‑teriak mengaku membela dan atas nama masyarakat. Coba saja kalau disuruh ikut begini, bangun pagi‑pagi duduk di sawah cuma buat menjaga dan mengusir burung pipit, apa mereka mau? Tolong bantu kami usir burung pipit ini,” ujarnya disela tawa kecil.
Redaksi (Roziqin

0 Komentar